Bab 29 — Kebingungan Rencana Pesta Dansa
MUNGKIN saja hidup tanpa menari. Banyak pemuda dan gadis yang diketahui telah melewati berbulan-bulan lamanya tanpa menghadiri satu pun pesta dansa—dan ajaibnya, tubuh maupun jiwa mereka tetap utuh. Namun, begitu seseorang mulai mencicipi kenikmatan bergerak cepat di lantai dansa—meskipun hanya sebentar—akan sulit untuk tidak menginginkannya lagi. Mereka yang bisa menahan diri setelah itu pastilah berjiwa beku.
Frank Churchill pernah menari sekali di Highbury. Dan sejak saat itu, ia tak berhenti membayangkan bisa menari lagi. Maka, ketika malam itu Mr. Woodhouse dengan segala bujuk rayu berhasil diajak menghabiskan waktu di rumah putrinya di Randalls, setengah jam terakhir malam itu pun diisi dengan percakapan seru—antara Frank dan Emma—tentang kemungkinan menggelar pesta dansa lain.
Gagasan itu datang dari Frank, dan semangat terbesarnya pun darinya. Namun, justru Emma-lah yang paling menyadari rintangan-rintangan teknis: soal tempat, susunan tamu, dan tentu saja kesan yang akan ditimbulkan. Ia peduli. Namun tetap saja, ada keinginan tersembunyi dalam dirinya untuk sekali lagi menunjukkan kepada khalayak betapa serasinya ia dan Mr. Frank Churchill berdansa. Untuk membuktikan—tanpa rasa malu—bahwa ia pun tak kalah anggun dari Jane Fairfax. Bahkan, jika boleh jujur, ia juga rindu sensasi menari itu sendiri—tanpa perlu dibumbui rasa pamer.
Lanjut Baca Sampai Tamat?
Kamu sudah mencapai batas Zona Bebas Baca (Bab 10). Buat akun sekarang untuk lanjut membaca terjemahan novel Emma sampai tamat secara GRATIS!
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.