Naskah asli novel The Hound of the Baskervilles berada dalam public domain di Indonesia karena pertama kali dipublikasikan pada 25 Maret 1902 (lebih dari 50 tahun lalu) dan penulisnya, Arthur Conan Doyle, telah wafat pada 7 Juli 1930 (lebih dari 70 tahun lalu), sebagaimana diatur UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Selengkapnya.
Pada suatu pagi yang dingin di Baker Street, ketika kabut London masih menggantung rendah dan seakan menekan jendela-jendela dengan berat yang tak kasatmata, aku mendapati Sherlock Holmes telah lama terjaga, duduk tegak di kursinya dengan jari-jari yang dirapatkan dan pandangan yang tertuju pada selembar tongkat tua yang tergeletak di atas meja.
Ada sesuatu dalam sikapnya—ketegangan yang terpendam namun terarah—yang segera memberitahuku bahwa perkara yang tidak biasa tengah menanti penjelasan.
“Engkau melihatnya, Watson,” katanya tanpa menoleh, seolah-olah pikiranku telah ia baca sebelum sempat kuutarakan. “Namun, sebagaimana lazimnya, engkau belum sepenuhnya mengamati.”
Aku mendekat, meneliti tongkat itu dengan lebih saksama. Permukaannya aus, tetapi terawat; terdapat ukiran kecil di gagangnya yang nyaris tak terbaca, dan bekas gigitan—atau mungkin tekanan gigi—di bagian bawahnya.
“Seorang pria pedesaan,” kataku ragu, “yang barangkali telah lama memilikinya.”
Holmes tersenyum tipis, senyum yang setengah mengandung persetujuan dan setengah lagi koreksi. “Sungguh, Watson, engkau berada di jalur yang benar—dan sekaligus, sebagaimana sering terjadi, masih jauh dari tujuan.”
Aku pun menyadari, sekali lagi, bahwa di hadapanku berdiri suatu misteri yang lebih dalam daripada yang tampak di permukaan.
📝 Belum ada komentar untuk novel ini. Jadilah yang pertama berkomentar!










Silakan login untuk meninggalkan komentar.