Buku III – Di Istana Nestor di Pylos
TETAPI matahari, setelah meninggalkan lautan yang sangat indah, naik ke langit perunggu agar menyinari para dewa yang abadi maupun manusia fana di atas bumi yang subur. Mereka pun tiba di Pylos, kota berbenteng kokoh milik Neleus.
Di sana, di tepi laut, penduduk sedang mempersembahkan kurban berupa lembu-lembu hitam seluruhnya kepada Pengguncang Bumi yang berambut biru tua. Tersedia sembilan tempat duduk, masing-masing diduduki lima ratus orang, dan bagi setiap kelompok disediakan sembilan ekor lembu. Setelah mencicipi isi perut hewan kurban, mereka membakar paha-paha kurban itu bagi sang dewa.
Sementara itu, mereka segera merapat ke pantai, menurunkan layar kapal yang seimbang itu, menggulungnya, lalu menambatkan kapal. Setelah itu mereka turun ke darat. Telemakhos pun turun dari kapal, sementara Athena berjalan memimpin. Dewi bermata biru itu lebih dahulu berbicara kepadanya.
βTelemakhos, kini engkau tak perlu lagi bersikap malu, sedikit pun tidak. Justru untuk itulah engkau mengarungi lautan, agar dapat mencari kabar tentang ayahmu, di mana bumi menyembunyikannya dan nasib apa yang telah menimpanya.
βSekarang marilah, pergilah langsung menemui Nestor, sang penjinak kuda. Kita akan mengetahui nasihat apa yang tersimpan dalam hatinya. Mohonlah kepadanya agar mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Ia tidak akan berkata dusta, sebab ia sangat bijaksana.β
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 3 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader gratis untuk melanjutkan membaca.
π Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!



Silakan login untuk meninggalkan komentar.