Bab 4
SEJAK hawa dingin pertama datang, Emma meninggalkan kamarnya dan pindah ke ruang depanβsebuah ruangan panjang berplafon rendah, dengan sebuah polip karang yang rimbun terbentang di atas perapian, menempel pada cermin. Duduk di kursinya dekat jendela, ia melihat orang-orang desa berlalu-lalang di trotoar.
Dua kali sehari LΓ©on berjalan dari kantornya menuju Lion dβOr. Dari kejauhan Emma mendengar langkahnya; ia condongkan tubuhnya sambil mendengarkan, dan pemuda itu melintas di balik tirai, selalu berpakaian sama dan tanpa menolehkan kepala.
Namun saat senja, ketika dagunya bertumpu pada tangan kiri dan sulaman yang tengah dikerjakannya tergeletak di pangkuan, sering kali ia terkejut oleh bayangan itu yang tiba-tiba lewat. Ia pun bangkit dan memerintahkan agar meja makan disiapkan.
Monsieur Homais biasanya datang saat makan malam. Dengan topi Yunani di tangan, ia masuk berjingkat agar tak mengganggu siapa pun, sambil mengulang kalimat yang sama setiap kali, βSelamat malam, semuanya!β
Lalu, setelah duduk di tempatnyaβdi sisi meja, di antara kedua suami istriβia menanyakan kabar para pasien kepada dokter, dan dokter itu meminta pendapatnya tentang kemungkinan pembayaran honorarium. Setelah itu mereka membicarakan apa saja yang ada di koran.
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 10 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader gratis untuk melanjutkan membaca.
π Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!



Silakan login untuk meninggalkan komentar.