Bab 7
KEESOKAN harinya merupakan hari berkabung bagi Emma. Segala sesuatu tampak diselubungi suasana hitam yang mengambang samar di permukaan segala hal; dan kesedihan menerobos ke dalam jiwanya dengan raungan yang lembut, seperti angin musim dingin yang menderu di kastel-kastel terlantar.
Itulah perenungan tentang sesuatu yang takkan pernah kembali, keletihan yang menyergap setelah setiap peristiwa selesai, dan akhirnya rasa sakit yang timbul dari terhentinya segala gerak yang telah biasa, dari berhentinya secara mendadak getaran yang lama berlangsung.
Seperti saat pulang dari Vaubyessard, ketika tarian-tarian quadrille berputar-putar di kepalanya, ia diliputi melankolia yang suram, keputus-asaan yang tumpul.
Sosok LΓ©on muncul kembali, lebih tinggi, lebih tampan, lebih lembut, lebih kabur; ia terasa ramai seperti kerumunan, penuh kemewahan dalam dirinya sendiri dan penuh kegelisahan. Ketika mengingat peralatan makan perak dan pisau-pisau bermata mutiara, ia tidak bergetar sedalam saat mengingat tawa dalam suara LΓ©on dan deretan giginya yang putih.
Percakapan-percakapan terngiang kembali di benaknya, lebih merdu dan lebih menusuk daripada nyanyian seruling dan harmoni alat tiup logam; tatapan-tatapan yang sempat tertangkap olehnya memercikkan api seperti girandole kristal; dan aroma rambut LΓ©on serta kelembutan napasnya membuat dadanya mengembang lebih hebat daripada embusan rumah kaca yang hangat atau wangi bunga magnolia.
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 10 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader gratis untuk melanjutkan membaca.
π Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!



Silakan login untuk meninggalkan komentar.