Bab 4
TAK lama kemudian, LΓ©on mulai bersikap angkuh di hadapan rekan-rekannya. Ia menjauh dari pergaulan mereka dan sama sekali mengabaikan berkas-berkas pekerjaannya.
Ia menunggu surat-surat dari Emma. Ia membacanya berulang-ulang. Ia membalasnya. Ia memanggil bayangan kekasihnya dengan seluruh daya hasrat dan kenangan yang dimilikinya.
Alih-alih memudar karena jarak, keinginannya untuk menemui Emma justru kian membara, hingga pada suatu Sabtu pagi ia diam-diam meninggalkan kantornya.
Ketika dari puncak tanjakan ia melihat menara gereja di lembah, dengan bendera seng yang berputar ditiup angin, ia merasakan campuran kenikmatan, keangkuhan yang menang, dan kelembutan egoistisβperasaan yang mungkin dirasakan para jutawan saat kembali mengunjungi desa asal mereka.
Ia berkeliling di sekitar rumah itu. Sebuah cahaya tampak menyala di dapurnya. Ia mengintip, berharap melihat bayangannya di balik tirai. Tak ada apa-apa.
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 10 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader gratis untuk melanjutkan membaca.
π Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!




Silakan login untuk meninggalkan komentar.