Bab 13
“SELAMA dua bulan para buronan itu tak kunjung kembali; dan dalam dua bulan itu pula, Mrs. Linton mengalami—dan pada akhirnya menaklukkan—guncangan terburuk dari apa yang kemudian disebut sebagai demam otak.
“Tak ada ibu yang bisa merawat anak tunggalnya dengan lebih tekun daripada cara Mr. Linton menjaga istrinya. Siang dan malam dia berjaga, menahan segala kerewelan yang bisa ditimbulkan oleh saraf yang rapuh dan nalar yang terguncang.
“Dan meskipun Kenneth berulang kali memperingatkan bahwa semua yang dia selamatkan dari liang kubur hanya akan membalas pengorbanannya dengan menjadi sumber kecemasan tak berkesudahan—bahwa kesehatan dan kekuatan Mr. Linton sedang dikorbankan demi mempertahankan sisa-sisa dari seorang manusia—dia tak mengenal batas dalam syukur dan kebahagiaan ketika nyawa Mrs. Linton dinyatakan selamat dari bahaya.
“Berjam-jam Mr. Linton duduk di sisi istrinya, mengamati pelan-pelan tubuh itu kembali pulih, dan membiarkan harapan yang terlalu muluk menipu dirinya dengan bayangan bahwa pikiran Mrs. Linton juga akan kembali ke keseimbangan semula, dan akan pulih sepenuhnya seperti istrinya yang dulu.
“Pertama kali Mrs. Linton meninggalkan kamarnya adalah pada awal Maret berikutnya. Pagi itu, Mr. Linton telah meletakkan segenggam krokus emas di atas bantalnya; mata Mrs. Linton—yang sudah begitu lama tak mengenal kilau kegembiraan—langsung menangkap warna-warna itu ketika terbangun, dan bersinar bahagia saat dia meraup bunga-bunga itu dengan tangan gemetar.
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 10 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader gratis untuk melanjutkan membaca.
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!



Silakan login untuk meninggalkan komentar.