Bab 8 – Jane Masih Sakit, Elizabeth Ketahan di Netherfield
• Pride and Prejudice (Terjemahan Kasual) •
JAM lima sore, dua nona rumah itu pamit untuk bersiap-siap. Jam setengah tujuh, Elizabeth dipanggil turun untuk makan malam.
Pas mereka duduk di meja makan, pertanyaan sopan langsung ngalir dari para tamu—dan di antara semua itu, perhatian Charles Bingley kerasa paling tulus, yang buat Elizabeth lumayan terhibur. Cuma sayangnya, jawabannya enggak bisa bikin semua orang tenang: kondisi Jane sama sekali belum membaik.
Begitu denger kabar itu, dua kakak-beradik perempuan Bingley langsung masang wajah prihatin dan ngulang-ulang betapa mereka sedih banget, betapa nyebalinnya sakit flu, dan betapa mereka sendiri paling benci kalo sampe jatuh sakit.
Cuma habis itu… ya udah, mereka keliatannya lupa gitu aja soal Jane. Sikap cuek mereka sewaktu Jane enggak ada di depan mata bikin Elizabeth jadi inget alasan kenapa dia kurang suka sama gadis-gadi keluarga Bingley ini.
Satu-satunya yang masih bisa Elizabeth hargai dari keluarga itu cuma si Charles Bingley sendiri. Cuma itu satu-satunya yang bener-bener kelihatan peduli sama Jane, dan juga cukup perhatian ke Elizabeth sendiri, sampe-sampe Elizabeth enggak ngerasa terlalu kayak tamu enggak diundang di rumah itu.
Dari yang lain? Hampir enggak ada yang peduli. Caroline Bingley sibuk pedekate Fitzwilliam Darcy, kakaknya pun hampir sama. Sementara Mr. Hurst—yang duduk di sebelah Elizabeth—hanya tertarik sama makanan, minuman, dan main kartu. Begitu tahu Elizabeth lebih seneng makanan sederhana daripada hidangan mewah, dia langsung enggak punya bahan obrolan lagi.
Begitu makan malam selesai, Elizabeth langsung naik ke kamar Jane. Baru aja dia keluar dari ruang makan, Caroline udah mulai gosipin dia. Gaya Elizabeth dianggap sombong dan kurang ajar, katanya enggak punya pembawaan, enggak modis, enggak punya selera, apalagi cantik.
Louisa Hurst juga sepakat dan nambahin, “Dia enggak punya kelebihan apa-apa, kecuali jago jalan kaki. Aku enggak akan lupa penampilan dia pagi tadi—bener-bener kayak orang habis keluar dari hutan!”
“Iya, Louisa. Aku sampe susah nahan tawa. Ngapain juga dia dateng-dateng, coba? Masa cuma karena kakaknya sakit flu, dia harus lari-larian keliling pedesaan begitu? Rambutnya acak-acakan, mukanya kusut banget.”
“Dan roknya itu lho! Semoga kamu lihat juga, bagian bawahnya penuh lumpur, pasti enam senti tebelnya. Bajunya juga gagal total nutupi itu semua.”
“Deskripsimu mungkin akurat, Louisa,” kata Charles Bingley, “tapi aku enggak sepenuhnya sepakat sama kalian. Menurutku, pagi tadi Elizabeth malah kelihatan keren pas masuk ruangan. Aku enggak perhatiin soal roknya yang kotor.”
“Kamu pasti ngeliat gimana penampilan dia tadi, Charles,” potong Caroline Bingley. “Kamu pasti enggak mau dong adikmu tampil kucel kayak begitu.”
“Ya jelas nggak,” jawab Fitzwilliam Darcy.
“Bayangin aja, jalan kaki tiga, empat, lima mil, sendirian, sepatunya masuk lumpur! Maksudnya apa, sih? Buatku itu cuma bukti kalo dia itu sok mandiri dan enggak tahu tata krama ala kota.”
“Itu bukti kalau dia sayang banget sama kakaknya, dan itu menurutku luar biasa,” kata Charles Bingley.
“Aku khawatir,” bisik Caroline Bingley ke Fitzwilliam Darcy, “petualangan ini bikin kamu kurang terpesona sama ‘mata indah’-nya Miss Bennet itu.”
“Enggak sama sekali,” balas Fitzwilliam Darcy, “malah dia kelihatan makin bersinar karena habis olahraga.”
Hening sebentar setelah kalimat itu, terus Louisa Hurst buka suara lagi.
“Aku seneng banget sama Jane Bennet. Dia manis banget, dan aku bener-bener berharap dia dapet jodoh yang baik. Tapi kalo inget ayah dan ibunya kayak gitu, dan koneksi keluarganya yang… yah, kamu tahu sendiri… aku sih, jadi pesimis.”
“Kayaknya aku pernah denger kamu bilang paman mereka itu pengacara di Meryton, ya?”
“Iya, dan satunya lagi tinggal deket Cheapside.”
“Hahaha, itu lucu,” timpal Caroline Bingley, sambil ketawa bereng kakaknya.
“Walaupun mereka punya paman sebanyak penghuni Cheapside,” seru Charles Bingley, “itu enggak akan bikin mereka jadi enggak menyenangkan!”
“Cuma sayangnya,” sela Fitzwilliam Darcy, “faktor itu pasti ngurangin peluang mereka untuk nikah dengan cowok yang punya status tinggi.”
Charles Bingley nggak jawab, tapi saudara-saudarinya langsung setuju banget dan mereka ketawa puas. Ngetawain “keluarga kampung” sahabat mereka sendiri.
Mereka sempat ngunjungin kamar Jane lagi dengan sikap lembut pas keluar dari ruang makan, dan nemenin Jane sampe dipanggil ke ruang kopi. Jane masih kelihatan lemah. Elizabeth enggak ninggalin kakaknya sampe malem, dan baru turun ke lantai bawah pas Jane akhirnya tidur. Bagi dia ini enggak kerasa nyenengin, tapi lebih ke “ya udahlah, sebaiknya begitu”.
Pas masuk ke ruang tamu, semua orang lagi main kartu. Mereka ngajak Elizabeth gabung, tapi dia curiga taruhannya besar, jadi dia nolak dengan alasan pengen nemenin Jane sebentar. Dia bilang mau baca buku aja.
Mr. Hurst langsung bengong. “Kamu lebih suka baca buku daripada main kartu?” tanyanya. “Aneh juga.”
“Miss Eliza Bennet itu,” sela Caroline Bingley, “orangnya anti banget sama kartu. Dia cuma suka baca buku. Enggak ada yang lain yang bikin dia seneng.”
“Aku sih, enggak sehebat itu atau sedisiplin itu,” jawab Elizabeth. “Aku enggak gila baca, dan aku punya banyak hal yang bisa aku nikmati.”
“Merawat kakakmu pasti salah satunya,” kata Charles Bingley dengan tulus. “Semoga besok kamu bisa lebih lega karena dia udah sembuh.”
Elizabeth ngucapin terima kasih dengan tulus, terus jalan ke meja buku dan mulai lihat-lihat koleksinya. Charles Bingley langsung nawarin untuk ambil buku lain dari perpustakaannya.
“Sayangnya koleksi bukuku enggak sebanyak yang aku pengen punya. Tapi koleksi bukuku lebih banyak daripada yang sempet aku baca.”
Elizabeth bilang buku-buku di ruangan itu sudah cukup buatnya.
“Aku heran,” kata Caroline Bingley, “kenapa ayahku cuma ninggalin sedikit buku di rumah ini. Tapi koleksi di Pemberley luar biasa banget ya, Fritz!”
“Harusnya bagus,” jawab Fitzwilliam Darcy santai. “Itu hasil kerja keras banyak generasi.”
“Dan kamu sendiri banyak nambahin koleksi juga. Kamu rajin banget beli buku.”
“Aku enggak habis pikir kenapa ada orang yang cuek sama perpustakaan keluarga di zaman kayak sekarang.”
“Kamu pasti enggak pernah cuek sama hal-hal yang bisa bikin rumahmu makin keren. Charles, kalo nanti kamu bangun rumah sendiri, semoga bisa paling enggak keindahannya setengah dari Pemberley.”
“Amin,” sahut Charles Bingley.
“Tapi serius, aku saranin kamu beli tanah deket situ aja dan jadiin Pemberley sebagai contoh. Enggak ada daerah yang lebih indah dari Derbyshire.”
“Dengan senang hati. Aku bahkan siap beli Pemberley kalau Fritz mau jual.”
“Aku ngomongin kemungkinan yang masuk akal, Charles.”
“Kalau gitu, beli langsung Pemberley lebih masuk akal daripada sekadar niru.”
Elizabeth jadi terpaku sama obrolan mereka, sampe buku di tangannya pun enggak kebaca. Akhirnya dia taruh buku itu dan deketin meja kartu, tegak di antara Charles Bingley dan saudarinya, merhatiin permainan mereka.
“Georgiana sekarang tinggi, ya?” tanya Caroline Bingley, nanyain adik Fitzwilliam. “Dia bakal setinggi aku enggak?”
“Kayaknya sih, iya. Sekarang dia kira-kira seukuran Elizabeth, atau sedikit lebih tinggi.”
“Aku kangen banget sama dia! Belum pernah ketemu gadis yang bikin aku segitu terpesonanya. Wajahnya, sikapnya… dan dia jago banget main piano.”
“Aku selalu heran,” kata Charles Bingley, “kok para gadis bisa sabar banget belajar banyak hal, semua serba bisa.”
“Semua gadis serba bisa? Charles, kamu ngomong apa, sih?”
“Ya emang rata-rata begitu. Mereka bisa melukis meja, menghias pelindung api, bikin dompet rajut… Aku hampir enggak kenal cewek yang enggak bisa itu semua. Dan tiap kali kenalan sama gadis baru, pasti dibilang ‘sangat berbakat’.”
“Daftar kemampuan versi kamu itu,” sela Fitzwilliam Darcy, “sayangnya cukup akurat. Kata ‘berbakat’ keburu jadi label buat siapa aja, padahal cuma karena bisa merajut dompet atau menghias sekat. Tapi jujur aja, aku cuma kenal mungkin enam cewek yang benar-benar pantas disebut accomplished.”
“Aku juga, sih,” kata Caroline Bingley.
“Berarti kamu punya standar tinggi banget untuk definisi ‘gadis berbakat’,” komentar Elizabeth.
“Betul. Aku emang punya standar tinggi.”
“Oh iya dong,” timpal Caroline Bingley cepet-cepet. “Gadis yang pantas disebut accomplished itu harus bisa musik, nyanyi, gambar, nari, bahasa asing… dan di atas itu semua, ada ‘sesuatu’ dalam pembawaan dia, cara bicara dia, dan sikapnya yang elegan.”
“Dan,” tambah Fitzwilliam Darcy, “dia juga musti punya otak dan wawasan luas dari banyak membaca.”
“Pantas aja kamu cuma kenal enam orang. Aku heran, kok kamu masih bisa nemu yang kayak begitu.”
“Kamu segitu skeptisnya sama sesama perempuan?” tanya Fitzwilliam Darcy.
“Bukan skeptis, aku cuma belum pernah ketemu yang punya semua kualitas itu dalam satu orang.”
Louisa Hurst dan Caroline Bingley langsung protes. Mereka bilang mereka kenal banyak perempuan seperti itu, tapi Mr. Hurst yang lagi fokus main kartu nyuruh mereka diam karena bikin ribut. Percakapan pun berhenti, dan Elizabeth pamit keluar ruangan.
Begitu pintu ketutup, Caroline Bingley langsung nyeletuk, “Eliza Bennet tuh tipe cewek yang suka ngerendahin sesamanya biar kelihatan menarik di mata cowok. Dan aku yakin, banyak cowok yang tertipu. Tapi buatku, itu murahan banget. Licik.”
“Setuju,” kata Fitzwilliam Darcy datar. “Setiap bentuk manipulasi untuk menarik perhatian itu menjijikkan.”
Caroline Bingley kelihatan enggak puas dengan jawaban itu, dan pembicaraan pun berhenti.
Elizabeth sempat balik lagi sebentar ke ruang tamu, cuma buat ngabarin kalo kondisi Jane makin parah dan dia harus terus nemenin kakaknya. Charles Bingley langsung nyaranin panggil Dokter Jones, sementara dua saudarinya yang skeptis sama dokter kampung, bilang mending kirim orang ke kota buat manggil dokter top.
Elizabeth nolak, tapi dia setuju buat panggil Dokter Jones besok pagi kalo Jane enggak kunjung membaik.
Charles Bingley ngerasa enggak tenang, dan saudara perempuannya bilang mereka sedih. Tapi mereka menghibur diri dengan main musik setelah makan malam, sementara Charles Bingley ngasih instruksi ke pelayannya buat rawat Jane dan Elizabeth sebaik mungkin.
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.