Catatan Penutup: Cinta di Antara Gengsi dan Prasangka
• Pride and Prejudice (Terjemahan Kasual) •
Kalau kamu sampai di halaman ini, berarti kamu udah sukses ngelewatin berbagai pertengkaran batin, saling sindir, saling ngeles, dan akhirnya… ya, akhirnya juga cinta, antara Lizzy Bennet sama Mr. Darcy. Cieee~ selamat!
Tapi, yuk sebentar kita rewind dan ngobrol santai soal apa sih yang sebenernya bikin Pride and Prejudice ini timeless banget—padahal ditulis udah dari tahun 1813. Jawabannya, percaya atau enggak, adalah: karena kita semua, di zaman mana pun, tetap manusia. Dan manusia itu ya penuh gengsi, suka nge-judge orang dari kesan pertama, keras kepala, denial, tapi… tetep pengin dicintai dan dimengerti. Ya, enggak?
Lizzy Bennet itu tokoh utama yang relatable banget. Cewek cerdas, punya mulut tajam tapi hati lembut, enggak gampang terpesona sama cowok tajir, dan berani bilang “no” ke pernikahan yang enggak bikin dia bahagia (meskipun tekanan keluarganya gila-gilaan). Sedangkan Mr. Darcy? Awalnya ngeselin—dingin, sombong, kaya banget, dan kayaknya menganggap orang lain enggak selevel. Tapi ternyata… di balik jas mahal dan ekspresi datar itu, dia cowok yang setia, enggak suka pamer, dan ternyata respect banget sama Lizzy.
Lanjut Baca Sampai Tamat?
Kamu sudah mencapai batas Zona Bebas Baca (Bab 13). Buat akun sekarang untuk lanjut membaca terjemahan novel Pride and Prejudice (Terjemahan Kasual) sampai tamat secara GRATIS!
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!










Silakan login untuk meninggalkan komentar.