Sebuah Pengantar
Mengapa kita masih membaca Sense and Sensibility hari ini? Apa pentingnya membaca novel dari tahun 1811—yang aslinya ditulis dalam bahasa Inggris kuno, berlatar kehidupan bangsawan, dan penuh dengan aturan sosial yang terasa begitu asing bagi kita di Indonesia?
Jawabannya sederhana: karena manusia tidak banyak berubah.
Meski zaman terus bergerak, gejolak batin manusia tetap sama. Kita masih jatuh cinta dengan cara yang bodoh, kita masih menyakiti orang yang tak bersalah, dan kita masih berharap akhir yang bahagia—meskipun kita tahu hidup tak selalu memberikannya.
Terjemahan ini tidak hanya bertujuan meneruskan isi novel, tapi juga semangatnya. Alih-alih menerjemahkan kata demi kata, kami berusaha menangkap nada, ironi, dan kehangatan yang ada dalam tulisan Jane Austen. Sebab Austen bukan hanya seorang pengarang, tapi seorang pengamat kehidupan yang jeli dan nakal, yang tahu bagaimana menyindir dengan senyum dan menegur dengan lembut.
Dalam menerjemahkan bab demi bab, kami menemukan bahwa sebagian besar tantangan justru bukan pada kalimat rumit atau kosakata usang yang terkadang sulit dicarikan padanan tepat dalam bahasa Indonesia, tetapi pada mempertahankan suasana. Austen seringkali menuliskan sesuatu yang tampaknya ringan, tapi sesungguhnya tajam. Ia menertawakan tokohnya—tapi tanpa pernah menghina. Ia menyelipkan kritik sosial—tapi dengan gaya yang tetap sopan. Dan di sinilah tugas terberat penerjemah: menjaga agar pembaca Indonesia bisa tersenyum di titik-titik yang sama seperti pembaca Inggris dua abad lalu.
Terjemahan ini memakai gaya bahasa formal yang ringan, tapi tetap menghormati struktur kalimat dan diksi asli sejauh mungkin. Kalimat-kalimat panjang yang rumit telah dipecah-pecah agar lebih mudah dicerna, tanpa menghilangkan nada atau pesan utama. Istilah dan referensi budaya yang bisa membingungkan telah disesuaikan atau dijelaskan secara implisit lewat konteks.
Sebagai contoh, kata “parsonage” yang mengacu pada rumah pendeta, dibiarkan sebagai “rumah” atau “pastoran”, tergantung konteks. Referensi sosial seperti “penghasilan tahunan seribu pound” tidak dikonversi ke rupiah, tetapi disertai deskripsi naratif yang membuat pembaca paham bahwa itu besar atau kecil. Karena Sense and Sensibility bukan sekadar angka, tapi perasaan di baliknya.
Beberapa nama tempat atau istilah spesifik sengaja dibiarkan dalam bentuk asli, karena menerjemahkannya justru akan merusak nuansa. Misalnya “Delaford” tetap “Delaford”, bukan “Desa Delaford” atau “Kebun Delaford”. Namun, untuk dialog, gaya bicara agak dilonggarkan agar tidak terdengar kaku—supaya pembaca masa kini bisa merasa lebih dekat dengan Elinor, Marianne, dan bahkan Lucy Steele.
Kami juga sengaja membiarkan ironi-ironi halus Austen muncul apa adanya. Jika dalam versi asli Austen menulis sesuatu yang terdengar seperti “pujian, tapi sebenarnya sindiran,” maka dalam versi terjemahan ini pun diupayakan tetap terasa ambigu dan cerdas. Karena justru di situlah letak keindahan Sense and Sensibility: kemampuannya menertawakan dunia sambil tetap mencintainya.
Bagi kamu yang baru pertama kali membaca Austen, bersiaplah untuk perjalanan yang tidak selalu cepat, tetapi selalu bermakna. Di awal mungkin terasa seperti jalan lambat di tengah pedesaan, tapi tunggulah sampai kamu benar-benar mengenal para tokohnya—maka kamu akan tahu bahwa jalan lambat itu penuh pemandangan batin yang tak terlupakan.
Dan bagi yang sudah lama akrab dengan Austen, semoga versi ini menghadirkan rasa baru. Versi yang tetap setia pada roh aslinya, tetapi akrab dalam bahasa dan hati. Setidaknya, itulah yang kami upayakan.
Selamat membaca.
Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu
Login untuk memberikan vote dukungan
📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.