Bab 29 – Jujurnya Willoughby yang Bikin Perasaan Campur Aduk
SEBELUM pelayan sempat menyalakan api di perapian pagi ituβdan sebelum matahari punya kekuatan untuk menghangatkan pagi Januari yang dingin dan muramβMarianne sudah duduk bersimpuh di dekat jendela. Ia masih setengah berpakaian, menulis dengan cepat sambil air matanya terus mengalir. Ia mencoba memanfaatkan cahaya seadanya yang masuk dari luar.
Dalam kondisi seperti itulah Elinor melihatnya untuk pertama kali, terbangun karena suara isak dan kegelisahan adiknya. Elinor mengamati dalam diam, lalu dengan suara paling lembut dan penuh perhatian berkata, βMarianne, boleh aku tanyaβ¦?β
βTidak, Elinor,β jawabnya cepat, βjangan tanya apa-apa. Kamu juga akan segera tahu segalanya.β
Nada tenangnya yang seperti pasrah itu hanya bertahan sebentar, karena setelah bicara, air mata dan kesedihannya langsung kembali meluap. Ia butuh beberapa menit sebelum bisa melanjutkan menulis, dan bahkan saat pena sudah kembali di tangan, isak tangisnya yang sesekali meledak tetap memaksanya berhenti. Semua itu jadi bukti betapa besar kemungkinan bahwa ia sedang menulis untuk terakhir kalinya kepada Willoughby.
Elinor memberinya perhatian penuh dengan cara yang tenang dan tidak mencolok. Ia bahkan ingin lebih menenangkannya, tapi Marianne memohon dengan sangatβdengan semacam ketegangan yang nyaris panikβagar Elinor tidak bicara apa-apa. Dalam situasi seperti itu, memang lebih baik mereka tidak terlalu lama berada di ruangan yang sama.
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 11 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader gratis untuk melanjutkan membaca.
π Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!



Silakan login untuk meninggalkan komentar.