Rekomendasi
Sherlock Holmes - The Sign of Four
Sherlock Holmes - The Sign of Four
Lihat Buku
Rekomendasi
The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde - Robert Louis Stevenson
The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde - Robert Louis Stevenson
Lihat Buku
Rekomendasi
Gadis Penari dari Izu - Yasunari Kawabata
Gadis Penari dari Izu - Yasunari Kawabata
Lihat Buku
Rekomendasi
The Hound of the Baskervilles - Sir Arthur Conan Doyle
The Hound of the Baskervilles - Sir Arthur Conan Doyle
Lihat Buku
Rekomendasi
Sense and Sensibility - Jane Austen (Pastel Books)
Sense and Sensibility - Jane Austen (Pastel Books)
Lihat Buku
Rekomendasi
Northanger Abbey - Jane Austen (Shandi Publisher)
Northanger Abbey - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

Bab 6 – Mr. Darcy Mulai Tertarik?

• Pride and Prejudice (Terjemahan Kasual) •

👁️ 22 tayangan

CEWEK-CEWEK Longbourn akhirnya main ke rumah keluarga Bingley di Netherfield, sesuai tata krama sosial. Dan tentu aja, kunjungan itu dibalas seperti seharusnya. Dari situ, Jane makin disukai sama Louisa alias Mrs. Hurst dan Miss Caroline Bingley—sikap manis dan ramahnya memang bikin orang gampang seneng sama dia.

Sayangnya, pendapat mereka soal Mrs. Bennet? Duh, katanya enggak usah dikomentarin.

Dan anak-anak Mr. Bennet yang lain? Katanya sih, enggak penting banget buat diajak ngobrol. Tapi, mereka tetap pengin lebih kenal sama dua di antara mereka: Jane dan Elizabeth.

Jane, kayak biasa, seneng banget diperhatiin begitu. Sedangkan Elizabeth masih bisa ngerasa, sikap dua perempuan itu tetep aja terkesan tinggi hati ke hampir semua orang—bahkan ke Jane, meskipun udah agak lebih sopan.

Jadi, Elizabeth tetep enggak bisa suka sama mereka. Meski begitu, perhatian mereka ke Jane pasti ada hubungannya sama rasa suka kakak mereka, si Charles Bingley.

Dan ya, setiap mereka ketemu, kelihatan banget kalau Charles Bingley naksir Jane. Begitu juga sebaliknya—Jane pelan-pelan mulai ngebuka hati.

Elizabeth ngerasa tenang karena Jane bukan tipe cewek yang suka nunjukin perasaan secara berlebihan. Meski hatinya dalem banget, Jane punya pembawaan tenang dan ceria, jadi orang-orang yang kepo enggak akan nyadar kalo dia lagi jatuh cinta.

Elizabeth sempet ngobrol soal ini ke sahabatnya, Charlotte.

“Mungkin enak sih ya, kalo bisa nyembunyiin perasaan dari orang-orang,” kata Charlotte, “tapi kadang itu juga bisa jadi masalah. Kalo cewek terlalu pinter nyembunyiin perasaan, bahkan dari cowok yang dia suka, bisa-bisa cowoknya enggak sadar dan malah lepas begitu aja. Dan percaya deh, tahu orang lain enggak nyadar itu bukan hal yang nyenengin buat seseorang yang lagi jatuh cinta.”

Dia lanjut ngomong, “Perasaan suka itu biasanya muncul dari rasa terima kasih atau cuma karena si dia mau bikin kita ngerasa spesial, jadi enggak aman kalau dibiarin gitu aja. Kita semua bisa suka sama seseorang, itu wajar. Tapi jarang banget yang bisa bener-bener jatuh cinta kalo nggak dikasih harapan. Makanya, sembilan dari sepuluh kasus, cewek itu mendingan nunjukin sikap lebih dari perasaan yang sebenernya dia punya ke si cowok. Si Bingley itu jelas suka sama Jane, tapi kalo Jane enggak kasih lampu hijau, bisa jadi dia enggak bakal maju-maju.”

Rekomendasi
The Case Book of Sherlock Holmes - Sir Arthur Conan Doyle
The Case Book of Sherlock Holmes - Sir Arthur Conan Doyle
Lihat Buku
Rekomendasi
Anne of Green Gables - L. M. Montgomery
Anne of Green Gables - L. M. Montgomery
Lihat Buku
Rekomendasi
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Romeo Juliet - William Shakespeare
Romeo Juliet - William Shakespeare
Lihat Buku
Rekomendasi
Sherlock Holmes - A Study in Scarlet
Sherlock Holmes - A Study in Scarlet
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku

Elizabeth jawab, “Tapi Jane udah berusaha sebisanya. kok. Aku aja bisa lihat dia naksir Charles Bingley itu, masa si cowoknya enggak nyadar juga?”

“Masalahnya, Lizzy, Si Bingley itu belum kenal Jane sedalam kamu kenal dia.”

“Tapi kalo cewek udah suka dan enggak berusaha nyembunyiin itu, cowoknya mustinya nyadar, dong.”

“Ya… mungkin aja. Kalo mereka sering ketemu. Tapi sejauh ini, Si Bingley itu sama Jane kan, cuma ketemu di acara rame-rame, enggak bisa ngobrol leluasa. Jadi kalo Jane dapet setengah jam aja ngobrol sama dia, ya manfaatin sebaik mungkin. Kalo udah bisa mastiin kalo dia tertarik, baru deh santai dan nikmati proses jatuh cintanya.”

Elizabeth ketawa kecil. “Saran kamu masuk akal banget… kalo tujuannya emang pengin dapet suami kaya. Kalau aku niatnya ke sana, mungkin aku bakal ngikutin cara itu juga. Tapi Jane bukan orang kayak gitu. Dia enggak main strategi-strategiam. Dia aja belum yakin seberapa dalem perasaannya atau apakah itu masuk akal. Lagipula, dia baru kenal Si Charles Bingley itu dua mingguan ini. Mereka dansa bareng empat kali di Meryton, pernah ketemu sekali pagi-pagi di rumahnya, dan makan malem bareng empat kali. Belum cukuplah buat tahu karakter orang.”

Charlotte senyum, “Kalau cuma makan malam sih, paling juga dia tahu Si Bingley itu doyan makan atau enggak. Tapi kan, mereka juga sempat ngabisin empat malam bareng—dan itu cukup buat banyak hal.”

Elizabeth nyengir, “Iya, dari situ mereka tahu mereka lebih suka main kartu Vingt-un daripada Commerce. Tapi soal karakter yang lebih dalem? Kayaknya belum terlalu terbuka, deh.”

Rekomendasi
The Case Book of Sherlock Holmes - Sir Arthur Conan Doyle
The Case Book of Sherlock Holmes - Sir Arthur Conan Doyle
Lihat Buku
Rekomendasi
Anne of Green Gables - L. M. Montgomery
Anne of Green Gables - L. M. Montgomery
Lihat Buku
Rekomendasi
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Romeo Juliet - William Shakespeare
Romeo Juliet - William Shakespeare
Lihat Buku
Rekomendasi
Sherlock Holmes - A Study in Scarlet
Sherlock Holmes - A Study in Scarlet
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku

Charlotte angkat bahu. “Yah, apapun itu aku tetep doain semoga Jane sukses. Kalo besok dia nikah sama Si Bingley pun, aku yakin peluang bahagianya sama aja kayak orang yang pacaran setahun. Kebahagiaan dalam pernikahan itu untung-untungan. Meski karakternya cocok banget pas PDKT, belum tentu cocok setelah nikah. Malah seringnya beda sendiri dan berujung drama. Jadi, mending tahu sesedikit mungkin soal kekurangan pasangan hidup.”

Elizabeth ketawa ngakak. “Kamu lucu, Char. Tapi kamu sendiri tahu itu omong kosong. Kamu enggak bakalan nikah pake prinsip kayak gitu.”

Sementara Elizabeth sibuk ngamatin perhatian Charles Bingley ke Jane, dia enggak nyadar kalau sebenernya ada orang lain yang mulai merhatiin dia juga—Fitzwilliam Darcy.

Awalnya, Fitzwilliam Darcy bahkan enggak nganggep Elizabeth menarik. Pas pesta dansa waktu itu, dia ngeliat Lizzy tanpa minat sedikit pun.

Pertemuan selanjutnya, Fitzwilliam Darcy cuma ngelirik buat nyinyirin Elizabeth dalem hati. Tapi begitu dia udah yakin—dan ngasih tahu temen-temennya—kalo wajah cewek itu enggak ada cantik-cantiknya, eh, malah dia mulai sadar kalo ekspresi mata gelap anak kedua Mr. Bennet itu punya kecerdasan yang menarik.

Setelah itu, makin banyak hal yang bikin Fitzwilliam Darcy terpaksa ngaku kalo penilaiannya salah. Meskipun dia bisa nemu banyak “kekurangan” dari bentuk bodi Elizabeth, tetap aja dia harus ngakuin kalo cewek itu punya tubuh yang langsing dan enak dilihat. Dan meski gayanya bukan gaya perempuan kelas atas yang elegan, ada sisi santai dan spontan dari sikap Elizabeth yang justru bikin Mr. Darcy makin kepikiran.

Elizabeth sendiri enggak sadar sama sekali. Buat dia, Fitzwilliam Darcy ya cuma cowok jutek yang enggak pernah berusaha nyambung sama siapa pun—apalagi ke yang pernah dia bilang enggak cukup cantik buat diajak berdansa.

Fitzwilliam Darcy mulai penasaran, pengin tahu lebih banyak tentang Elizabeth. Sebagai langkah awal supaya bisa ngobrol langsung sama cewek itu, dia mulai curi-curi dengar obrolan Elizabeth sama orang lain.

Rekomendasi
The Case Book of Sherlock Holmes - Sir Arthur Conan Doyle
The Case Book of Sherlock Holmes - Sir Arthur Conan Doyle
Lihat Buku
Rekomendasi
Anne of Green Gables - L. M. Montgomery
Anne of Green Gables - L. M. Montgomery
Lihat Buku
Rekomendasi
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Romeo Juliet - William Shakespeare
Romeo Juliet - William Shakespeare
Lihat Buku
Rekomendasi
Sherlock Holmes - A Study in Scarlet
Sherlock Holmes - A Study in Scarlet
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku

Eh, ternyata—hal itu tak luput dari perhatian gadis incerannya. Kejadiannya pas pesta di rumah Sir William Lucas, tempat itu lumayan rame malem itu.

“Apa sih, maksudnya Si Darcy itu nguping obrolanku sama Kolonel Forster?” bisik Elizabeth ke Charlotte.

“Itu cuma bisa dijawab sendiri sama yang bersangkutan,” jawab Charlotte, sambil senyum.

“Tapi kalo aku mergokin dia ngelakuin itu lagi, aku bakal negur dia langsung. Tatapan matanya tuh, sinis banget—kalo aku enggak mulai bertingkah sok duluan, bisa-bisa aku malah jadi takut sendiri.”

Enggak lama kemudian, Fitzwilliam Darcy emang cari posisi di deket-deket Elizabeth, walaupun jelas-jelas enggak ada niat buat nyapa. Charlotte pun nantang Elizabeth untuk nyinggung hal itu langsung ke cowok itu—dan tentu aja, Elizabeth malah ngambil kesempatan.

“Tadi aku keren banget ya, waktu godain Kolonel Forster buat ngadain pesta dansa di Meryton?” tanya Elizabeth langsung ke Fitzwilliam Darcy pake nada bercanda.

“Semangat banget. Tapi wajar sih, topik dansa biasanya emang bikin kalian para wanita jadi penuh gairah.”

“Wah, nyinyir juga komentarnya.”

“Giliran dia yang digodain sebentar lagi,” sela Charlotte. “Ayo, Eliza, aku mau mainin pianonya—dan kamu tahu itu artinya apa.”

“Kamu tuh temen aneh! Selalu maksa aku main piano dan nyanyi di depan semua orang! Coba kalo aku ini orang yang suka pamer bakat musik, kamu pasti jadi sahabat paling berharga. Tapi karena aku ogah jadi pusat perhatian, aku sebenarnya males banget harus tampil di depan orang-orang yang biasa dengerin pemain profesional.”

Cuma karena Charlotte tetep maksa, akhirnya Elizabeth nyerah juga.

“Ya udahlah. Kalo emang harus, ya berarti harus.” Elizabeth lalu ngelirik ke arah Fitzwilliam Darcy dan nambahin dengan tenang, “Ada pepatah lama yang pasti semua orang di sini tahu: ‘Simpan napasmu buat ngedinginin buburmu.’ Nah, aku bakal nyimpen nafasku buat nyanyi.”

Permainan piano Elizabeth bagus, walau jauh dari kata luar biasa. Baru beberapa lagu dia mainin dan sebelum sempat nanggepin permintaan untuk tampil lagi, Mary—adiknya yang dikenal paling rajin dan suka tampil karena ngerasa dirinya kurang menarik dibanding saudari-saudarinya—langsung nyerobot posisi di piano.

Rekomendasi
The Case Book of Sherlock Holmes - Sir Arthur Conan Doyle
The Case Book of Sherlock Holmes - Sir Arthur Conan Doyle
Lihat Buku
Rekomendasi
Anne of Green Gables - L. M. Montgomery
Anne of Green Gables - L. M. Montgomery
Lihat Buku
Rekomendasi
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Romeo Juliet - William Shakespeare
Romeo Juliet - William Shakespeare
Lihat Buku
Rekomendasi
Sherlock Holmes - A Study in Scarlet
Sherlock Holmes - A Study in Scarlet
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku

Mary emang rajin belajar karena merasa perlu punya kelebihan lain. Tapi dia enggak punya bakat alami atau selera bagus; dan meskipun keinginan tampil itu dateng dari rasa percaya diri yang tinggi, sayangnya sikapnya malah terkesan sok dan kaku.

Sementara Elizabeth yang tampil tanpa beban justru lebih enak dilihat dan didengar, meskipun tekniknya biasa saja. Setelah Mary nyerampungin satu concerto panjang, dia coba ngambil simpati dan pujian lewat lagu-lagu rakyat Skotlandia dan Irlandia—atas permintaan saudari-saudarinya yang langsung berdansa sama beberapa tamu lain di ujung ruangan.

Fitzwilliam Darcy tegak di deket mereka, nahan rasa kesal dalam diam ngelihat bagaimana malam itu dihabisin tanpa percakapan berarti, cuma hiburan dan keramaian. Dia tenggelam dalam pikirannya sendiri sampe-sampe enggak nyadar kalo Sir William Lucas ada tepat di sebelahnya—sampe sang tuan rumah buka obrolan.

“Wah, asyik banget ya acara anak-anak muda ini, Mr. Darcy! Menurut saya, dansa itu hiburan terbaik. Simbol masyarakat beradab yang elegan!”

“Benar juga, Sir. Dan keuntungannya: kegiatan ini juga populer di kalangan masyarakat yang kurang beradab. Semua orang primitif pun bisa dansa.”

Sir William cuma ketawa kecil. “Teman Anda itu dansanya luar biasa!” katanya lagi, sambil ngelihat Charles Bingley ikut bergabung. “Saya yakin Anda sendiri juga jago dansa, ya Mr. Darcy?”

“Kalau enggak salah, Anda sempat lihat saya berdansa di Meryton, kan?”

“Tentu saja. Dan saya menikmatinya. Apa Anda juga sering berdansa di St. James’s?”

“Enggak pernah.”

“Padahal itu bisa jadi bentuk penghormatan terhadap tempatnya, lho.”

“Saya enggak pernah memberikan penghormatan semacam itu ke tempat mana pun—kalau bisa saya hindari.”

“Rumah Anda di kota, saya yakin?”

Fitzwilliam Darcy hanya ngangguk.

“Saya sempat berpikir pindah ke kota juga, karena saya suka suasana sosial yang lebih tinggi kelasnya. Tapi saya ragu-ragu, takut udara London enggak cocok buat istri saya.”

Rekomendasi
The Case Book of Sherlock Holmes - Sir Arthur Conan Doyle
The Case Book of Sherlock Holmes - Sir Arthur Conan Doyle
Lihat Buku
Rekomendasi
Anne of Green Gables - L. M. Montgomery
Anne of Green Gables - L. M. Montgomery
Lihat Buku
Rekomendasi
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Romeo Juliet - William Shakespeare
Romeo Juliet - William Shakespeare
Lihat Buku
Rekomendasi
Sherlock Holmes - A Study in Scarlet
Sherlock Holmes - A Study in Scarlet
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku

Sir William berhenti, berharap Fitzwilliam Darcy bakal jawab. Tapi lawan bicaranya jelas enggak tertarik. Saat itu Elizabeth mendekat, dan Sir William mendadak ngerasa ini momen bagus untuk tampil romantis.

“Nona Eliza yang manis, kenapa kamu tidak berdansa?—Mr Darcy, izinkan saya mengenalkan gadis muda ini kepada Anda. Dia pasangan dansa yang sangat layak! Anda tidak mungkin menolak kalau keindahan ada di depan mata.”

Sir William lalu meraih tangan Elizabeth dan hampir aja nyerahin gadis itu ke Fitzwilliam Darcy.

Tapi Elizabeth langsung mundur sambil berkata cukup tegas, “Maaf, Sir. Aku sama sekali enggak ada niat dansa. Aku mohon, jangan salah paham—aku dateng ke sini bukan buat nyari pasangan dansa.”

Fitzwilliam Darcy, dengan sopan dan formal, minta kehormatan untuk bisa berdansa dengannya. Tapi Elizabeth keukeuh nolak dengan tegas. Sir William coba membujuk gadis itu, tapi sia-sia.

“Kamu itu penari yang hebat, Nona Eliza. Kejam sekali kalau tidak mengizinkanku melihat kamu tampil. Dan meskipun Mr. Darcy bukan penggemar dansa, aku yakin beliau tidak akan keberatan membuat kita senang sebentar.”

“Ah, Mr. Darcy memang sangat sopan,” kata Elizabeth, sambil senyum.

“Betul. Tapi kalau pasangan dansanya seperti kamu, siapa sih yang bisa nolak?”

Elizabeth cuma senyum geli dan berpaling.

Penolakan tadi ternyata enggak bikin Fitzwilliam Darcy kecewa. Cowok itu malah mikirin Elizabeth dengan perasaan senang—sampe tiba-tiba Miss Caroline Bingley nyapa dia.

“Aku bisa nebak apa yang kamu pikirkan.”

“Kurasa enggak.”

“Pasti kamu lagi bayangin betapa menyiksanya harus ngabisin malem kayak gini—dikelilingi orang-orang seperti ini. Dan aku setuju banget. Aku bener-bener tersiksa! Rame tapi hambar; norak tapi ngerasa penting. Duh, aku pengen banget denger komentar tajam kamu soal mereka!”

“Kamu bener-bener salah tebak. Menurutku ini jauh lebih menyenangkan dari itu. Aku lagi ngerenungin betapa indahnya sepasang mata cantik di wajah gadis yang menawan.”

Caroline Bingley langsung natap wajah Fitzwilliam Darcy lekat-lekat. “Wah, cewek mana yang sampe dapet kehormatan jadi perhatian kamu?”

Dengan tenang dan jelas, Fitzwilliam Darcy langsung jawab, “Nona Elizabeth Bennet.”

“Elizabeh Bennet!” seru Caroline Bingley kaget. “Wah, aku bener-bener enggak nyangka. Sejak kapan dia jadi favorit kamu? Dan kapan aku boleh ngucapin selamat?”

“Itu emang pertanyaan yang aku tunggu-tunggu keluar dari mulutmu. Imajinasi wanita itu luar biasa cepet—dari kekaguman langsung loncat ke cinta, dari cinta langsung ke pernikahan. Aku tahu kamu bakalan langsung ngelompat ke sana.”

“Kalau kamu seserius itu, aku anggap urusannya udah selesai. Wah, kamu bakalan punya ibu mertua yang mengagumkan, ya. Pasti ibu itu jadi sering-sering main ke Pemberley.”

Fitzwilliam Darcy cuma dengerin tanpa ekspresi. Karena enggak ngeliat reaksi apa pun, Caroline Bingley pun lanjut berceloteh seenaknya.

Pride and Prejudice (Terjemahan Kasual) 7 dari 64
Pride and Prejudice (Terjemahan Kasual)
Kamu sedang membaca sebagai pengunjung. Beberapa bab awal dapat dibaca tanpa akun.
Progres Zona Bebas: 54%

💝 Suka terjemahan ini?

Dukung KlikNovel menerjemahkan lebih banyak novel klasik seperti Pride and Prejudice (Terjemahan Kasual).

Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen (Shandi Publisher)
Pride and Prejudice - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku
Rekomendasi
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Sherlock Holmes - The Sign of Four
Sherlock Holmes - The Sign of Four
Lihat Buku
Rekomendasi
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Lihat Buku
Rekomendasi
Dracula - Bram Stoker
Dracula - Bram Stoker
Lihat Buku
Rekomendasi
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
Lihat Buku

📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!

Rekomendasi
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Winnetou 2 - Karl May
Winnetou 2 - Karl May
Lihat Buku
Rekomendasi
20 Thousand Leagues under the Sea - Jules Verne
20 Thousand Leagues under the Sea - Jules Verne
Lihat Buku
Rekomendasi
Winnetou 1 - Karl May
Winnetou 1 - Karl May
Lihat Buku
Rekomendasi
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku
Rekomendasi
The Memoirs of Sherlock Holmes
The Memoirs of Sherlock Holmes
Lihat Buku

Pride and Prejudice (Terjemahan Kasual)

×
×