Bab 9 – Mrs. Bennet Nyusul ke Netherfield
• Pride and Prejudice (Terjemahan Kasual) •
MALAM itu, Elizabeth jaga nemenin Jane di kamarnya. Pagi harinya, dia cukup lega karena bisa kasih kabar yang lumayan ngeyakinin tuan rumah, Mr. Charles Bingley—yang super perhatian, langsung ngirim kabar lewat pembantu rumah ke Longbourn sejak pagi-pagi buta.
Enggak lama setelah itu, dua wanita modis—para sahabat, Louisa, kakak Charles Bingley—juga mampir nanyain kondisi Jane.
Meski kondisi Jane mulai membaik, Elizabeth tetep ngerasa perlu buat ngirim surat ke Longbourn, minta ibunya dateng langsung dan ngelihat sendiri kondisi Jane. Surat itu langsung dikirim, dan Mrs. Bennet enggak nunggu lama buat datang ke Netherfield—tentu aja sambil bawa dua putri bungsunya. Mereka sampe di Netherfield enggak lama setelah sarapan keluarga Bingley selesai.
Kalau aja Jane kelihatan kayak dalam kondisi bahaya, Mrs. Bennet pasti udah panik setengah mati. Tapi begitu ngelihat kalo anak sulungnya cumaa sakit ringan dan bukan sesuatu yang gawat, dia malah berharap Jane jangan cepat-cepat sembuh. Soalnya, kalau sembuh, Jane pasti langsung balik dari Netherfield—dan jelas Mrs. Bennet lebih suka anak gadisnya itu tetep di sana (you know, demi peluang asmara).
Jane sendiri sempet minta dibawa pulang, tapi ibunya nolak mentah-mentah. Dokter yang datang pun bilang hal yang sama: jangan dipindah dulu. Setelah duduk sebentar nemenin Jane, Mrs. Bennet dan ketiga putrinya diajak Miss Caroline Bingley ke ruang sarapan.
Charles Bingley nyambut mereka dengan sopan dan berharap kondisi Jane enggak lebih buruk dari yang dibayangin. Tapi Mrs. Bennet langsung bilang, “Waduh, justru lebih parah dari yang aku kira! Dokter Jones bilang dia enggak boleh dipindah sama sekali. Jadi, mohon maaf kami musti ‘numpang’ sedikit lebih lama.”
“Dipindah?” kata Charles Bingley kaget. “Jangan sampai, deh! Kakak-adik saya juga pasti enggak akan setuju.”
Caroline Bingley nimpalin dengan senyum dingin, “Tenang saja, Ma’am. Selama Miss Bennet di sini, kami akan merawatnya sebaik mungkin.”
Mrs. Bennet langsung berbunga-bunga dan mulai muji semua orang. “Kalo bukan karena kebaikan kalian, saya enggak tahu gimana jadinya anak saya. Dia itu anak paling sabar, enggak pernah ngeluh, padahal sakitnya cukup berat. Dia itu, menurut saya, punya watak paling manis sedunia. Saya sering bilang ke anak-anak yang lain, mereka enggak ada apa-apanya dibanding Jane. Dan rumah ini, Mr. Bingley, duh, nyaman banget. Pemandangannya, jalur batu kerikil itu, cantik sekali. Netherfield ini luar biasa. Semoga Anda enggak cepat-cepat pindah ya, walau kontraknya pendek?”
Charles Bingley ketawa ringan. “Saya ini orangnya suka dadakan, Ma’am. Kalau pun pindah, mungkin saya berangkat dalam lima menit. Tapi untuk saat ini, saya masih betah di sini.”
Elizabeth menyahut, “Nah, itu yang aku duga sejak awal.”
“Kamu mulai ngerti saya, ya?” kata Charles Bingley, sambil noleh padanya.
“Oh iya dong, aku paham banget.”
“Wah, aku jadi bingung, ini pujian atau gimana. Soalnya kalo aku gampang ditebak, kayaknya kok sedih juga, ya?”
“Yah, itu relatif, sih. Orang yang simpel belum tentu kalah menarik sama yang rumit.”
“Lizzy,” tegur ibunya, “jangan asal nyeplos kayak di rumah sendiri!”
Charles Bingley lanjut lagi, “Wah, ternyata kamu suka ngamati karakter orang, ya? Pasti seru banget tuh.”
“Seru sih, apalagi karakter yang rumit. Lebih menantang.”
Fitzwilliam Darcy tiba-tiba nyeletuk, “Tapi kalo di desa kayak gini, pilihannya terbatas. Orang-orangnya itu-itu aja.”
Elizabeth langsung bales, “Tapi orang itu kan, bisa berubah. Selalu ada sisi baru yang bisa kita perhatiin.”
Mrs. Bennet ngerasa komentar Fitzwilliam Darcy agak nyindir, jadi langsung nukas, “Di desa juga banyak hal terjadi, lho! Sama serunya dengan di kota!”
Semua orang sempat kaget. Fitzwilliam Darcy cuma ngelihatin sebentar, terus noleh pergi tanpa komentar. Tapi Mrs. Bennet merasa menang, dan makin semangat.
“Menurut saya, kota enggak jauh lebih baik dari desa, kecuali urusan belanja dan hiburan. Desa itu jauh lebih menyenangkan, iya kan, Mr. Bingley?”
“Saya sih gitu-gitu aja, Ma’am. Di kota betah, di desa juga bahagia. Masing-masing punya plus-minusnya.”
“Ya itu karena kamu punya kepribadian yang nyenangin. Tapi anak itu,” kata Mrs. Bennet sambil natap Fitzwilliam Darcy, “kayaknya enggak suka desa sama sekali.”
Elizabeth buru-buru belain, “Mama salah paham. Maksud Mr. Darcy cuma, di kota emang lebih banyak variasi orang. Itu juga benar, kan?”
“Ya iya sih, enggak ada yang bilang beda. Tapi bilang enggak banyak orang di sekitar sini? Kami biasa makan malam bareng 24 keluarga, lho!”
Charles Bingley nyaris enggak bisa nahan ekspresinya saking khawatirnya sama Elizabeth. Tapi adik perempuannya malah senyum nakal ke arah Fitzwilliam Darcy. Elizabeth, yang pengen ngalihin perhatian ibunya, terus bilang, “Oh ya, Ma, Charlotte udah pernah mampir ke Longbourn, belum?”
“Udah, kemarin bareng ayahnya. Orangnya nyenengin sekali, ya, Mr. Bingley? Sopan, ramah, dan selalu nyambung ngobrol sama siapa aja. Menurut saya, itu tanda orang berpendidikan. Bukan kayak yang sok penting tapi enggak pernah ngomong.”
“Charlotte makan malam di rumah kita?”
“Enggak, dia buru-buru pulang. Katanya mau bantu bikin mince pie. Saya sih enggak gitu. Saya punya pembantu yang bisa kerja sendiri, anak-anak saya enggak biasa disuruh di dapur. Tapi ya, itu pilihan masing-masing. Anak-anak Lucas orang baik kok, walau sayangnya enggak terlalu cantik. Bukan maksud saya menjelekkan, Charlotte enggak jelek-jelek amat sih… toh, dia temen deket kami.”
“Kelihatannya dia anak yang menyenangkan,” kata Charles Bingley sopan.
“Oh iya, dia baik banget. Tapi ya, Anda pasti sadar dia emang kurang cantik. Ibunya sendiri sering bilang gitu, dan selalu iri sama kecantikan Jane. Saya sih, enggak suka sombong soal anak, tapi emang kenyataannya Jane itu cantik luar biasa. Semua orang juga bilang begitu. Dulu, waktu dia baru lima belas tahun, ada seorang pria di rumah adik saya di kota yang naksir berat sama dia. Kami kira bakal ngelamar. Tapi enggak jadi. Mungkin mikir Jane masih terlalu muda. Tapi dia sempet nulis puisi buat Jane, dan puisinya lumayan bagus.”
“Please, udahan deh cintanya,” sela Elizabeth agak ketus. “Kayaknya banyak yang ‘sembuh’ dari cinta gara-gara puisi. Aku penasaran, siapa sih yang pertama kali nyadar kalo puisi itu bisa jadi obat patah hati?”
“Saya pikir puisi itu makanannya cinta,” kata Fitzwilliam Darcy.
“Cinta yang sehat dan kuat, iya. Tapi kalo cuma naksir ringan, satu puisi aja bisa langsung bikin ilfeel!”
Fitzwilliam Darcy cuma senyum. Hening sejenak. Elizabeth mulai gelisah, takut ibunya bakal bicara aneh-aneh dan panjang lebar lagi. Namun sebelum dia sempet mikir apa yang musti dikatakan, Mrs. Bennet lagi-lagi muji kebaikan Charles Bingley, sambil minta maaf karena musti ngerepotin dengan kehadiran Lizzy juga.
Charles Bingley jawab dengan tulus dan sopan, bahkan maksa adiknya ikut bersikap ramah, walau si adik ngelakuin itu dengan ogah-ogahan. Tapi Mrs. Bennet cukup puas. Enggak lama, dia pun nyuruh orangnya buat nyiapin kereta.
Begitu denger perintah itu, duo bungsu Bennet langsung maju duluan. Selama kunjungan, dua gadis kecil itu bisik-bisik terus. Hasilnya? Lydia maju sendiri dan dengan santainya nagih janji Charles Bingley untuk ngadain pesta dansa di Netherfield.
Lydia, 15 tahun, badannya tinggi besar, kulitnya bersih, wajahnya ceria. Anak kesayangan ibunya. Dari kecil udah sering diajak ke acara-acara. Semangatnya luar biasa, percaya dirinya tinggi—apalagi karena sering diperhatiin para perwira yang kenal lewat pamannya. Jadi, dia enggak ragu langsung nagih janji: “Inget ya, Anda pernah janji mau ngadain pesta dansa waktu baru pindah ke sini. Masa janji dilupain? Enggak asyik banget, dong!”
Charles Bingley ketawa dan jawab, “Tentu saja saya ingat. Dan saya siap, kok. Begitu kakakmu sembuh, kamu boleh pilih hari apa pun yang kamu mau. Tapi kamu juga enggak pengin pesta dansa kalau dia masih sakit, kan?”
Lydia seneng denger jawaban itu dan setuju. “Iya sih, mending nunggu Jane sembuh dulu. Lagi pula, waktu itu mungkin Kapten Carter udah balik ke Meryton. Setelah kamu bikin pesta, aku bakal minta Kolonel Forster ngadain juga. Enggak seru kalau mereka enggak ikut!”
Akhirnya, Mrs. Bennet dan anak-anaknya pulang. Elizabeth langsung balik lagi ke sisi Jane, ninggalin Fitzwilliam Darcy dan dua wanita Bingley untuk bergosip sepuasnya tentang sikap ibunya. Cuma meskipun Caroline Bingley terus nyindir soal ‘mata indah’ Elizabeth, Fitzwilliam Darcy tetep enggak bisa ikut mencela.
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.