Bab 10 – Mr. Darcy Mulai Tersihir
• Pride and Prejudice (Terjemahan Kasual) •
HARI itu berjalan nyaris sama kayak hari sebelumnya. Louisa alias Mrs. Hurst sama Miss Caroline Bingley ngabisin beberapa jam di pagi hari nemenin Jane yang masih sakit, walau perlahan-lahan mulai membaik. Pas malem, Elizabeth ikut gabung dengan mereka di ruang tamu.
Tapi meja permainan loo enggak muncul malem itu. Fitzwilliam Darcy lagi sibuk nulis surat, dan Caroline Bingley duduk enggak jauh dari situ, merhatiin setiap gerakan cowok itu sambil sesekali ngalihin perhatian Mr. Darcy dengan titipan pesan untuk Georgina, adik Fitzwilliam.
Di tempat lain, Mr. Hurst sama Charles Bingley lagi asyik main kartu, sementara Mrs. Hurst nonton permainan mereka.
Elizabeth ngambil pekerjaan tangan dan ngerasa cukup terhibur ngeliatin interaksi antara Fitzwilliam Darcy sama Caroline Bingley. Pujian yang terus-menerus dilontarin Miss Bingley soal tulisan tangan Mr. Darcy, betapa rapi garis-garisnya, dan betapa panjang suratnya—semuanya disambut si cowok dengan ekspresi super datar. Interaksi mereka ini bener-bener ngasih gambaran pendapat Elizabeth tentang keduanya.
“Georgina pasti seneng banget dapet surat sebagus ini!” kata Caroline Bingley.
Fitzwilliam Darcy enggak jawab.
“Kamu nulisnya cepet banget, ya.”
“Kamu salah. Aku nulisnya malah lambat banget ini.”
“Kayaknya kamu musti nulis banyak surat tiap tahun, ya? Surat urusan kerja juga, kan? Kalau aku sih, ogah banget.”
“Syukurlah, berarti aku yang nulis, bukan kamu.”
“Tolong sampein ke adikmu, aku enggak sabar pengin ketemu dia.”
“Aku udah bilang gitu di surat sebelumnya. Kan kamu juga yang minta.”
“Aduh, kayaknya kamu enggak suka sama penamu. Biar aku rautin, deh. Aku jago banget soal itu.”
“Terima kasih, tapi aku biasa rautin sendiri.”
“Gimana sih caranya biar bisa nulis serapi itu?”
Fitzwilliam Darcy diem aja.
“Sampein juga, aku seneng banget denger kabar dia makin jago main harpa, dan tolong bilang ke dia kalo aku terpukau banget sama desain mejanya. Jauh lebih bagus dari punya Miss Grantley.”
“Boleh enggak puji-pujiannya ditunda dulu buat suratku berikutnya? Halaman surat ini udah penuh.”
“Ah, enggak penting juga, sih. Toh, aku bakal ketemu dia Januari nanti. Tapi kamu emang selalu nulis surat sepanjang ini ke dia, ya?”
“Biasanya emang panjang. Tapi apa bakal selalu menarik buat dia? Itu bukan aku yang bisa nilai.”
“Aku punya prinsip—orang yang bisa nulis surat panjang dengan mudah, pasti tulisannya bagus.”
“Ah, Caroline, itu enggak berlaku buat Darcy,” sela Charles Bingley. “Dia itu mikirnya kelamaan, kata-katanya susah semua, empat suku kata semua. Iya enggak, Darcy?”
“Gaya tulisanku beda jauh dari punyamu.”
“Ya jelas!” sahut Caroline Bingley, “Charles itu nulisnya sembarangan. Setengah katanya hilang, sisanya blepotan tinta.”
“Soalnya idenya ngalir terlalu cepet sampe aku enggak sempet nuangin semuanya jadi kata-kata. Jadi, apa maksud suratku kadang malah enggak nyampe ke orang.”
“Kerendahan hatimu itu bikin orang enggak bisa marah, Mr. Bingley,” kata Elizabeth.
“Penampilan rendah hati itu menipu,” timpal Fitzwilliam Darcy. “Kadang cuma bentuk lain dari cuek, kadang juga cara pamer yang terselubung.”
“Terus, yang barusan aku bilang masuk kategori yang mana?”
“Pamer terselubung. Kamu bangga sama kelemahanmu dalam menulis karena kamu nganggep itu tanda kerja otakmu cepet dan gayamu spontan. Padahal kemampuan ngelakuin sesuatu dengan cepet itu seringkali bikin kita enggak sadar betapa enggak sempurnanya hasil akhirnya. Pas kamu bilang ke Mrs. Bennet pagi ini kalo kamu bisa cabut dari Netherfield dalam lima menit, kamu sebenernya lagi muji diri sendiri—dan apa sih, bagusnya kebiasaan buru-buru yang bikin kerjaan penting jadi terbengkalai, dan enggak ngasih manfaat ke siapapun kayak gitu?”
“Wah, ini udah kelewatan. Masa masih diungkit-ungkit juga hal konyol yang aku omongin pagi tadi?” kata Charles Bingley. “Tapi sumpah, aku percaya apa yang aku bilang waktu itu, dan sekarang pun masih percaya. Jadi, seenggaknya aku bukan sok-sokan ngomong bakal buru-buru pergi cuma demi pamer ke cewek-cewek.”
“Aku yakin kamu percaya itu, tapi aku ragu kamu bakal beneran pergi secepet itu. Kamu tuh, orangnya tergantung suasana banget. Kalo pas kamu lagi naik kuda ada temen bilang, ‘Eh, Charles, kenapa enggak nunggu minggu depan aja?’, kamu mungkin bakal langsung setuju dan batal berangkat. Malah bisa-bisa sampe sebulan lagi.”
“Jadi intinya,” celetuk Elizabeth, “Mr. Bingley justru enggak adil ke dirinya sendiri. Kamu malah bikin dia kelihatan lebih baik daripada yang dia gambarin sendiri.”
“Aku seneng banget kalo apa yang Darcy bilang bisa kamu tafsirin sebagai pujian buat sifatku yang manis,” kata Charles Bingley. “Tapi kayaknya kamu udah melintir maksudnya. Darcy pasti lebih suka kalo aku langsung bilang ‘enggak’ dan kabur secepat mungkin.”
“Jadi, menurut Mr. Darcy, sikap gegabah kamu itu bisa dimaafin asal kamu ngotot ngejalaninnya, ya?”
“Aduh, aku juga bingung. Mending Darcy aja yang jawab.”
“Kalian nyuruh aku jelasin pendapat yang kalian bilang punyaku, padahal aku enggak pernah ngakuin itu. Tapi oke deh, anggap aja ceritanya sesuai versi kalian. Tapi ingat, Miss Bennet, temen yang kamu bilang engajak Charles nunda rencana itu cuma… ngajak. Tanpa alasan atau argumen kenapa permintaannya masuk akal.”
“Jadi menurut kamu, nurut sama temen tanpa mikir panjang bukan hal yang patut dihargai?”
“Kalo nurut tanpa yakin dulu, itu bukan bentuk penghargaan buat otak, baik otakmu sendiri maupun otak temenmu.”
“Kamu tuh ya, Mr. Darcy,” kata Elizabeth, “kayaknya enggak pernah ngasih ruang buat hal-hal kayak persahabatan atau rasa sayang. Kadang, kita tuh, nurutin permintaan seseorang cuma karena kita peduli, bukan karena ada argumen logis yang meyakinkan. Aku enggak lagi bahas soal kasus Mr. Bingley, ya. Mungkin lebih baik tunggu dulu sampe situasinya kejadian beneran sebelum kita debat soal keputusan dia. Tapi secara umum nih, kalau antara dua teman, yang satu minta tolong ke yang lain buat ubah keputusan yang sebenernya enggak penting-penting amat, apa kamu bakalan langsung nge-judge karena dia nurut tanpa debat dulu?”
“Kalo gitu, sebelum kita bahas lebih jauh, bukankah sebaiknya kita definisiin dulu seberapa penting permintaan itu, dan seberapa deket hubungan dua orang yang terlibat?” jawab Fitzwilliam Darcy, datar.
“Setuju banget!” seru Charles Bingley. “Kita perlu tahu detailnya nih, termasuk tinggi badan dan ukuran tubuh masing-masing, soalnya itu bisa jadi faktor penentu juga, lho, Miss Bennet! Jujur aja, kalo Darcy enggak setinggi itu dibanding aku, mungkin aku enggak akan sebegitu hormatnya sama dia. Aku enggak pernah lihat sosok yang lebih bikin sungkan ketimbang Darcy… terutama kalo lagi di rumahnya sendiri, hari Minggu, dan dia lagi enggak ada kerjaan.”
Fitzwilliam Darcy cuma senyum tipis. Tapi Elizabeth ngerasa cowok itu agak tersinggung, jadi dia nahan tawanya. Sementara itu, Caroline Bingley kelihatan bete banget dan langsung protes ke kakaknya karena udah ngomong ngawur soal Mr. Darcy.
“Aku tahu kok tujuanmu, Charles,” kata Fitzwilliam Darcy. “Kamu males debat dan pengen nutup topik ini.”
“Mungkin iya,” jawab Charles Bingley enteng. “Debat tuh, terlalu mirip berantem. Jadi kalo kamu sama Miss Bennet mau lanjut, tunggu aja sampe aku keluar ruangan. Aku bakal berterima kasih banget. Kalian bisa ngomongin apapun soal aku setelah itu.”
“Itu sih bukan masalah buatku,” kata Elizabeth santai. “Dan Mr. Darcy lebih baik lanjutin nulis suratnya aja, deh.”
Fitzwilliam Darcy nurut dan ngelanjutin nulis suratnya.
Begitu urusan surat selesai, dia nyamperin Caroline Bingley dan Elizabeth sambil minta ditemenin musik. Miss Bingley langsung semangat menuju piano, dan dengan sopan minta Elizabeth main duluan. Tapi Elizabeth, dengan lebih sopan (dan cukup tegas), nolak permintaan itu. Akhirnya Miss Bingley sendiri yang duduk di depan piano.
Louisa aka Mrs. Hurst ikut nyanyi bareng adiknya, dan sambil mereka main musik, Elizabeth iseng buka-buka kumpulan lagu di atas piano. Tapi dia enggak bisa enggak nyadar betapa seringnya Fitzwilliam Darcy ngelihatin dia.
Elizabeth bingung juga—masa iya dia dikagumi pria setinggi itu? Tapi kalo Fitzwilliam Darcy ngelihatin karena enggak suka, ya aneh juga. Akhirnya dia mikir, mungkin dia kelihatan paling ‘nggak beres’ di mata Mr. Darcy dibanding yang lain, makanya diperhatiin.
Cuma Elizabeth enggak ngerasa tersinggung, sih. Dia udah kadung enggak suka sama Fitzwilliam Darcy, jadi dia enggak terlalu peduli sama pendapat maupun pandangan cowok itu.
Setelah bawain lagu-lagu Italia, Caroline Bingley ganti suasana dengan lagu-lagu Skotlandia yang ceria. Terus Fitzwilliam Darcy jalan deketin Elizabeth dan nanya, “Kamu enggak pengin ikutan nari dengan iringan lagu kayak gini, Miss Eliza?”
Elizabeth cuma senyum tanpa jawab.
Fitzwilliam Darcy agak kaget karena Elizabeth cuma diam, jadi dia ulangi lagi pertanyaannya.
“Oh, aku tadi denger kok,” jawab Elizabeth. “Tapi aku butuh waktu buat mikir mau jawab apa. Kamu pasti pengennya aku jawab ‘iya’, supaya kamu bisa ngetawain selera musikku, kan? Tapi aku paling seneng tuh, kalo bisa ngegagalin rencana orang yang udah siap-siap nyinyir. Jadi, aku mutusin buat bilang: aku enggak mau dansa. Sekarang, silakan deh hina aku kalo berani.”
“Aku enggak berani,” jawab Fitzwilliam Darcy pelan.
Elizabeth agak kaget, karena dia kira Mr. Darcy bakal tersinggung. Tapi ternyata jawabannya sopan banget. Memang sih, Elizabeth punya gaya ngomong yang nyentil tapi manis, jadi susah buat bikin orang benar-benar marah.
Dan Fitzwilliam Darcy, yah… belum pernah seterpikat ini sama perempuan manapun. Kalo bukan karena latar belakang keluarga Elizabeth yang biasa aja, mungkin dia udah bener-bener jatuh cinta.
Caroline Bingley, tentu aja, mulai curiga dan cemburu. Dia jadi makin gencar pengen ‘nyelamatin’ Jane supaya bisa ngusir Elizabeth dari rumahnya.
Sering juga dia nyindir-nyindir Fitzwilliam Darcy, seolah mereka (Mr. Darcy sama Elizabeth) udah tunangan. Dia bahkan ‘ngerencanain’ kebahagiaan mereka berdua dengan nada sarkas.
“Kalo pernikahan impian itu beneran kejadian,” kata Caroline Bingley waktu mereka jalan-jalan di taman keesokan harinya, “tolong kasih wejangan ke calon ibu mertuamu ya, biar enggak bawel. Dan, kalo bisa, sekalian didik adik-adik si Elizabeth biar enggak genit ke perwira. Dan, maaf ya, kalau boleh nyentuh topik sensitif—coba deh, agak dikurangin dikit rasa percaya dirinya si Elizabeth yang kadang kebablasan itu.”
“Ada lagi yang bisa kamu usulin demi kebahagiaan rumah tanggaku nanti?” tanya Fitzwilliam Darcy datar.
“Oh, ada dong! Gantung potret om dan tante Philips di galeri Pemberley. Taruh di sebelah potret kakek buyutmu yang jadi hakim. Kan satu bidang tuh, cuma beda jalur aja. Dan soal potret si Elizabeth, jangan coba-coba nyuruh pelukis ngelukis matanya deh. Mana bisa pelukis manapun ngelukis mata seindah itu?”
“Yah, mungkin dnggak mudah sih buat nangkep ekspresinya, tapi bentuk dan warnanya, plus bulu matanya yang luar biasa halus itu, masih mungkin dicoba.”
Pas lagi ngomong gitu, tiba-tiba Louisa alias Mrs. Hurst sama Elizabeth muncul dari jalur taman lain.
“Aku enggak tahu kalian mau jalan-jalan juga,” kata Caroline Bingley agak gugup, takut omongannya tadi kedengeran sama yang bersangkutan.
“Kalian jahat banget sih,” protes Louisa. “Pergi enggak bilang-bilang ke kita.”
Habis ngomong gitu, Louisa langsung gandeng lengan Fitzwilliam Darcy, ninggalin Elizabeth jalan sendirian. Jalannya emang sempit, cuma cukup buat tiga orang.
Mr. Darcy ngerasa sikap itu kasar banget, jadi dia langsung bilang, “Jalan ini sempit banget buat kita berlima. Gimana kalau kita pindah ke jalur utama aja?”
Tapi Elizabeth, yang memang udah enggak minat ngikutin mereka, malah ketawa dan bilang, “Enggak usah, tetep aja di situ. Formasi kalian udah bagus kok, kayak di lukisan. Kalo aku ikut, nanti rusak dong keindahannya. Bye!”
Terus, Elizabeth pun lari-lari kecil menjauh, nikmatin waktu sendirian sambil bayangin betapa enaknya bisa pulang dalam sehari dua hari lagi. Jane juga udah mulai pulih, malam ini rencananya bakal keluar kamar selama beberapa jam.
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.