The Story of the Iliad

Kisah Iliad dalam Goresan Pena Alfred John Church; Sebuah Pengantar

👁️ 0 tayangan

SEJAK pertama kali digubah di masa Yunani Kuno, Iliad karya Homeros telah menjadi salah satu pilar sastra dunia. Bersama Odyssey, wiracarita ini membentuk fondasi bagi hampir seluruh sastra dan filsafat Barat. Kepopulerannya tidak pernah surut; ia dibaca, dipelajari, dan diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa selama lebih dari dua setengah milenium.

George Steiner pernah bertanya, “Mengapa ada begitu banyak versi Iliad dalam bahasa Inggris?” dan jawabannya mengarah pada penggambaran tentang kejantanan yang ideal dan abadi: di dalamnya terdapat visi maskulinitas yang sangat kuat, yang memikat bangsa-bangsa seperti Inggris dan Amerika Serikat yang mengagungkan kepahlawanan. Bahkan bagi para pekerja miskin di era Victoria, sebuah salinan Iliad berharga dua sen mampu membawa mereka “bertransmigrasi dari East End ke negeri dongeng”.

Popularitas Iliad tidak hanya karena ceritanya, tetapi juga karena eksplorasi mendalamnya terhadap kondisi manusia. Di dalamnya ada kemurkaan Akhilles yang menghancurkan, kelembutan Hektor sebagai seorang ayah dan suami, campur tangan para dewa yang penuh intrik, dan pertanyaan abadi tentang kehormatan, takdir, dan harga diri.

Sebagai sebuah karya yang idealized yet unflinching (diidealkan namun tidak kenal kompromi), Iliad menyajikan potret perang yang dahsyat dan sekaligus manusiawi—sebuah pertarungan yang tidak hanya terjadi di medan laga, tetapi juga di dalam jiwa para tokohnya. Inilah mengapa, meskipun sudah berusia ribuan tahun, karya ini tetap terasa segar dan relevan bagi setiap generasi.

Upaya menghadirkan Iliad kepada khalayak yang lebih luas telah berlangsung selama berabad-abad, terutama dalam bahasa Inggris. Sejak terjemahan besar pertama oleh Alexander Pope pada tahun 1715—sebuah edisi yang laris dan membuka akses sastra klasik bagi kaum awam—berbagai pendekatan terus dilakukan.

Abad ke-19 saja menyaksikan hampir lima puluh upaya penerjemahan, mulai dari prosa, sajak berirama, hingga heksameter, yang beragam dalam tingkat keberhasilannya. Di antara sekian banyak nama—seperti William Sotheby, Samuel Butler, atau bahkan upaya Perdana Menteri Gladstone dalam bentuk balada—banyak yang kini hanya dikenang sebagai “mayat” di perpustakaan digital, sementara yang lain seperti terjemahan Richmond Lattimore (1951) dan Robert Fagles (1990) terus hidup karena keindahan dan ketepatan mereka.

Di sisi lain, retelling, atau penceritaan ulang, memiliki tujuan yang berbeda. Jika penerjemahan berusaha mendekati orisinalitas teks secara filologis, retelling berfokus pada aksesibilitas naratif, terutama bagi pembaca yang belum siap menghadapi kompleksitas puisi epik yang panjang.

Alfred John Church, seorang pendeta dan penulis asal Inggris yang produktif, adalah salah satu tokoh penting dalam tradisi ini. Karya-karyanya, termasuk versi Iliad dan Odyssey yang diterbitkan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, memang secara khusus diciptakan untuk tujuan pendidikan dan pembaca muda, sering kali diedit untuk penggunaan di sekolah. Namun, hal ini tidak lantas mengurangi bobot karyanya.

Yang membuat versi Church ini menarik adalah kombinasi antara kesetiaan pada substansi dengan keanggunan gaya prosanya. The Spectator, dalam ulasan tahun 1891, memuji prosanya yang “jemih dan anggun” serta kemampuannya untuk menatahkan kebijaksanaan dunia kuno ke dalam narasi yang memikat.

Meskipun edisi awal bukunya pada tahun 1878 dinilai terlalu ringkas—ibarat memberikan “satu atau dua ruangan yang tinggi untuk menggambarkan sebuah bangunan luas”—edisi 1891 yang kita hadapi sekarang ini dikembangkan secara signifikan. Church memberikan ruang dua kali lebih banyak, sehingga pembaca dapat memperoleh “gambaran yang adil tentang seluruh struktur” dan bukan hanya bagian-bagian tertentu yang dipilih secara sembarang.

Salah satu contoh peningkatan ini adalah penambahan adegan “Pertempuran Para Dewa” yang sebelumnya dihilangkan. Church menyadari bahwa ini adalah bagian yang paling khas untuk menunjukkan kesederhanaan politeisme Yunani dan sarkasme yang halus dalam penggambaran para dewa—sebuah elemen penting yang membentuk warna dunia Iliad.

Selain itu, ia juga menyempurnakan narasi dengan memberikan awal dan akhir yang singkat namun tetap sepenuhnya sesuai dengan tradisi Homeros, sehingga cerita menjadi utuh dan tidak terputus. Dalam kata pengantarnya, Church sendiri menyatakan bahwa ia berusaha menyajikan cerita yang “jauh lebih lengkap dan, saya percaya, lebih memadai”.

Versi Church ini menarik bagi pembaca Indonesia karena beberapa alasan. Pertama, gaya prosanya yang jelas dan mengalir menjembatani jurang antara keagungan puisi epik dan keterbacaan prosa modern. Ia berhasil mempertahankan inti dramatis dan emosional dari cerita—pertemuan Priamos dan Akhilles, duka Hektor, serta amarah Akhilles—tanpa terbelit oleh larik-larik yang rumit.

Kedua, sebagai sebuah retelling, ia berdiri sebagai karya sastra yang utuh, tidak semata-mata sebagai “sampel” atau “ringkasan” yang hambar. Pembaca dapat menikmati alur cerita penuh dengan semua klimaksnya.

Ketiga, sejalan dengan naiknya minat terhadap mitologi dunia di Indonesia, menghadirkan Iliad dalam bentuk yang enak dibaca adalah sebuah jembatan penting untuk memahami akar peradaban dan pemikiran Barat. Dengan menyajikan versi Church ini, kita mengundang pembaca Indonesia tidak hanya untuk menikmati sebuah kisah kepahlawanan yang epik, tetapi juga untuk merenungkan tema-tema universal yang masih bergema hingga hari ini: kemurkaan, dukacita, dan martabat manusia di tengah kehancuran.

Akhir kata, semoga terjemahan ini dapat menjadi pintu gerbang bagi pembaca Indonesia untuk memasuki dunia Homeros yang agung, dan merasakan sendiri pesona yang telah memikat jutaan pembaca selama ribuan tahun.

The Story of the Iliad 1 dari 28
The Story of the Iliad
Kamu sedang membaca sebagai pengunjung tamu. Buat akun Reader gratis agar bisa melanjutkan membaca dan menyimpan progres bacaanmu.
Progres Zona Bebas: 20%
AWAL NEXT

📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!

×
×